Preman-Preman Kecil



Jalanan antar provinsi itu semakin ramai ketika menjelang siang. Menerbangkan debu-debu pasir bersama daun mangga kering yang jatuh di jalan trotoar. Aku menapaki jalan berbeton depan pasar Sumberrejo sambil memperhatikan kendaraan yang berseliweran. Tas kulit berwarna coklat terselempang rapi di pundak. Berisi dompet dan smarthphone favorit ku.
Di sana aku menemani ibu berbelanja kebutuhan pokok. Namun, dengan halus menolak untuk ikut masuk ke dalam. Harus ku akui, keputusan tersebut adalah hal yang salah. Sungguh menunggu bagi ku adalah hal yang memuakan. Tanpa ku sadari kaki ku sudah membawa ku berkeliling area luar pasar.
Aku merasakan seseorang menyenggol lengan ku sebelah kiri.
“Maaf.” Ia berkata seperti itu sambil lalu begitu saja.
Ku merasa aneh pada pemuda itu. Memakai topi dan berhoddie putih biru yang sudah kumal. Memakai kacamata hitam dan masker. Di musim kemarau seperti ini, apakah ia tidak kepanasan memakai pakaian itu, batin ku dalam hati.
Penasaran ku ikuti kemana ia melangkah. Berjalan diam-diam di belakangnya. Melewati kerumunan orang yang membeli sayur di bagian belakang pasar. Melewati deretan toko daging yang menurutku sangat bau karena di antara jejeran toko daging terdapat toko ikan. Interaksi penjual dan pembeli yang begitu banyak dan menyesakkan sempat membuat ku kehilangan jejaknya.
Toleh sana-sini untuk menemukan pemuda berhoddie itu. Hingga melihatnya keluar dari barisan nenek-nenek penjual pisang di bawah tangga sebelah barat.
Sementara itu, aku mulai menjalankan kedua anggota gerak ku ke arah barat, dimana ia berjalan. Membawa ku ke sebuah gubuk reyot tidak jauh dari pasar. Bersembunyi di balik pohon mangga yang tumbuh besar di tempat itu. Pemuda tersebut duduk  hingga sekumpulan bocah-bocah cilik membawa alat music.
Gelang karet merah gamma yang melingkar di tangan kanan ku tertarik oleh seorang anak perempuan dekil. Berwajah tirus dengan rambut merah jagung berjuntai hingga bahu. Terlihat beberapa ada yang rontok di kedua bahunya. Memakai dress berwarna biru kumal dan celana pendek selutut. Memiliki kulit coklat gelap dan mata coklat yang bersinar terang.
“Kakak ngapain di situ?” tanyanya polos dan lugu. Tidak ada ekspresi selain penasaran dari kedua bola mata indahnya.
Aku berpikir jawaban apa yang ku berikan. Antara mengikuti pemuda tadi yang menurutku ia merupakan kakaknya atau tidak mengikuti siapa-siapa. Akhirnya aku memilih opsi kedua, karena ku tahu bahwa tidak baik memberikan keburukkan pada seorang anak kecil.
“Kakak hanya lewat dan berteduh di bawah pohon ini.” jawab ku diakhiri senyuman.
Tidak ada respon dari bibirnya, tetapi akhirnya ia mengangguk.
“Humm.. apa kakak mau mampir ke sana?” tunjuknya pada gubuk reyot yang ku pastikan banyak tikus atau hewan-hewan menjijikan.
Bagaimana pun ibu selalu mengajarkan untuk saling menyanyangi dan tidak boleh membedakkan walaupun sejelek apapun tempat tinggalnya.
“Boleh.” putus ku. Gadis kecil itu tersenyum kecil dan mengangguk. Lalu berlari sambil memerintahkan ku untuk mengikutinya.
“Haiii…” sapanya pada seluruh temannya yang masih berkumpul di luar gubuk.
“Haii Nia. Kamu habis kemana?” tanya seorang anak laki-laki berambut keriting cepak.
“Tadi aku habis nyari bunga di sana, tetapi bunganya nggak ada.” jelasnya berwajah sedij, “aku bawa kawan baru lho!” dengan ceria ia menggenggam tangan ku.
Lalu cepat-cepat seorang pemuda berkaos hitam dengan kulit yang berwarna kontras menariknya.
“Sudah kakak bilang jangan bawa orang asing ke mari. Paham!” sentak pemuda yang ku ikuti tadi. Ia sudah membuka jaket hoddienya dan diletakkan di atas koran.
“Kalau begitu maaf sudah menganggu.” ingin pergi namun ditahan oleh anak laki-laki lain.
“Kakak mau kemana?”
“Di sini dulu sama kami.”
Mereka memelas menatap ku. Rasa ibapun menyelimutiku.
“Hei kalian apa-apaan sih!! Kita nggak kenal dia, bagaiman jika dia itu orang jahat yang kemudian membawa kita ke kantor polisi. Apakah kalian mau dikejar-kejar lagi oleh mereka?!” teriak anak laki yang berwajah keras. Ia marah karena semua teman-temannya menahan orang tak dikenal agar tetap di sini.
“Kakak ini nggak jahat!” bantah Nia yang langsung memeluk kaki ku.
Anak laki-laki itu maju dan menarik Nia agar melepaskan pelukannya. Namun, pelukannya semakin kuat hingga membuat kaki ku terasa nyeri. Hal itu membuat pemuda yang sepertinya berusia tidak jauh dari ku mengambil tindakkan.
“Lepaskan Nia, Farid.” Titahnya.
Ingin memprotes, tetapi langsung dipotong oleh pemuda itu, “lepaskan!” tegasnya.
“Uhh kak Dias nyebelin.” Lalu ia duduk menyendiri dengan lutut ditekuk. Tanpa menatap teman-temannya lagi.
Pemuda tersebut mendatangi kami. Berjongkok menyamakan tingginya dengan Nia yang baru berusia empat tahun. Menepuk lembut kepalanya.
“Nia mau nggak kakak ajarin menyanyi lagi.” bujuknya.
Anak perempuan itu mengangguk antusias, “mau!” serunya.
“Kalau mau lepasin dulu kaki kakak itu.”
Ia mendongakkan kepalanya menatap ku yang hanya tersenyum.
“Tidak.” Sanggahnya.
“Kenapa?”
“Nanti ia pergi dong, kak!”
Pemuda tersebut terdiam sejenak, “Kalau begitu apa boleh buat. Dia boleh ngumpul bareng kita.”
“Waahh kak Dias baik..!!” serunya sambil memeluk erat leher pemuda bernama Dias. “Ayo kak duduk.”
Aku mengikutinya, bergabung dengan lima belas orang. Dua orang dewasa, yaitu aku dan pemuda itu. Lalu sepuluh remaja yang berusia sepuluh hingga lima belas tahun dan sisannya anak-anak di bawah umur sepuluh tahun. Dias bercerita dan mengajarkan mereka pelajaran layaknya anak sekolah. Hanya dengan buku, pensil dan penghapus mereka antusias mencatat apa pun yang disuruh oleh Dias. Hingga belajar membuat pratitur music, lalu bermain bersama-sama.
Aku terhayut dalam kumpulan ini. Menikmati tiap detik yang terlewati bersama mereka yang selalu tersenyum di bawah suasana senja ini.

Komentar

Postingan Populer