Love - Fighting




Dia adalah teman ku. Tepatnya teman satu kelas. Selama tiga tahun kami selalu satu kelas. Ah.. bukan, sejujurnya dari kelas sepuluh teman-teman sekelas ku tetap mereka. Karena dari awal kami sudah masuk dalam penjurusan. Jadi, hingga kelas dua belas pun, kami tetap bersama.
Dan itu memberi keuntungan bagi ku. Karena aku bisa dekat dengannya dirinya. Orang yang ku kagumi.

“Kris, ayo latihan.” Ajak Zada menemui ku di kelas bersama Yahya. Mereka merupakan teman satu tim ku. Namun, mereka beda kelas dengan ku.
“Ya, nanti aku ikut.” Sudah lama aku tidak berlatih band bersama mereka. Karena tugas akhir ku yang menumpuk sebelum ujian kenaikkan kelas berlangsung.
Pandangan ku mengarah pada dirinya. Hanya sekilas, agar ia tidak memergoki ku. Bisa-bisa aku salting jika dia juga menatap ku.
Dia cewek yang sangat cerewet. Tetapi aku tetap mengagguminya. Dia cewek yang selalu banyak pikiran daripada teman-temannya yang lain. Dia juga bisa diandalkan untuk beberapa hal. Ia cukup pintar untuk mengerti sesuatu dengan cepat.
Sayang seribu sayang. Aku hanya bisa melihatnya dan mencintainya dari hati.
“Kalau lo minta nasehat tentang percintaan gue. Maaf gue nggak bisa.” Tolaknya pada Eri, kekasihnya Dion teman satu band ku. “Lo tahu sendiri kan kalau gue sudah lama nggak ngejalin hubungan asmara. Sejak PDKT sama Fian gagal.”
Ia duduk tepat di depan ku hingga aku mendengar curcolannya. Sambil menyalin tugas PKn milik Zaka.
“Walaupun lo nggak pernah pacaran, tapi lo kan bisa ngasih nasehat.”
“Kalau lo paksa minta nasehat dari gue. Mendingan lo putusin tuh cowok lo.” Ujarnya kemudian. Membuat Eri mencibir, lalu ngambek tidak lagi meminta nasehat dari dirinya.
“Katanya lo pingin denger nasehat gue. Ya, putusin aja cowok lo.” dia menambah lagi. Apa lagi yang dipikirkannya. Pikir ku masih tetap menyalin tugas. “Alasan gue nasehatin lo putus sama dia, sejak pertama kalian jadian gue udah ngerasa kalau dia bakal nyakitin hati lo. Kedua, mukanya nggak menyakinkan untuk dijadikan pacar. Ketiga, dia nggak mirip sama cowok-cowok anime.” Tandasnya yang membuat ku tersedak ludah ku sendiri.
Aku pun juga mempunyai alasan untuk menyukai dirinya. Pertama, ia tidak terlalu pusing memikirkan miliki kekasih atau tidak malah ia lebih tomboy. Kedua, ia tetaplah cewek, jika tahu cowok ganteng pasti langsung kepincut. Tetapi, standar cowok ganteng menurutnya ialah seperti di komik atau anime Jepang.
>-<
“Kak Wisnu...” teriaknya memanggil kakak kelas kami yang sedang berjalan menuju kelas ku.
“Ekhm..ekhm.. Katanya nggak pacaran.” sindir Eri melihat dia mengamit lengan Kak Wisnu. Serius aku tidak bisa bergerak, sebelum dia menjawab sindirian Eri. Otak ku mendadak beku gara-gara melihat dirinya bermanja dengan Kak Wisnu.
Dengan gayanya yang cengingisan ia menjawab dengan gurauan. “Memang pacar nggak punya. Tapi kalo tunangan punya dong. Hahaha.”
Aku yakin pasti dia bergurau, tidak pernah terpikirkan oleh ku bahwa dia punya tunangan yang umurnya hanya berjarak dua tahun dengannya. Tanpa sadar aku sudah berbicara yang tak masuk akal.
“Lo mau nikah muda? Padahal kalau gue sudah kerja, rencananya gue mau ke rumah lo.”
“Ngapain ke rumah gue segala?”
“Mau lamar lo.”
Doengg
Kata yang sangat terlarang keluar dari mulut gue. Ah.. malu deh gue. Nggak sanggup gue lihat wajah. Apalagi disampingnya ada tunangannya. Duuhh.. mulut gue ember.
“Gue tunggu lo Kris.” Ucapnya seraya tersenyum. Senyum paling indah yang pernah ditujukkan pada ku.
Senyumnya seakan membuat kepercayaan diriku kembali. Aku pun membalas senyumnya dengan senyum yang paling baik.
“Berusaha yang terbaik ya Kris. Besok kita bertemu lagi.” ia pun berbalik.
Sedangkan, Kak Wisnu mendatangi ku dan mengatakan hal yang penting bagi ku. Ia menarik ku ke tempat yang agak jauh dari teman-teman ku.
“Jujur aja ya gue. Sebenarnya sekarang gue kakaknya Rea. Bukan tunangannya, lo tahu sendiri gimana pola pikiran tuh anak. Bokap gue sama nyokapnya baru nikah dua minggu yang lalu. Jadi, ya begini lah.”
Aku tak percaya dengan pernyataan dari Kak Wisnu. “Ahaha..” aku hanya tertawa garing menanggapinya, karena tidak tahu kata apa yang pas.
“Kak Wisnu ayo pulang.” Dia kembali dan menarik lengan Kak Wisnu. “sampai jumpa besok Kris.”
Selama beberapa detik otak ku membeku secara otomatis saat ia pamit pada ku. Sebelum Ikhbal menepuk pundak ku dan mengajak ku pulang. Baru otak ku kembali berfungsi.
Baru kali ini aku merasakan kebahagiaan yang meletup-letup. Malam harinya ku berdendang sambil menatap langit cerah dengan bulan sabit yang menemaninya. Tak lupa dirinya yang ku simpan di hati ku.
Semoga perasaan ini bukanlah permainan yang dapat mempermainkan ku.

END

Komentar

Postingan Populer